Topik perselingkuhan memang tidak pernah habis untuk dibahas, Terlepas dari apa pun, selingkuh tetap tidak dapat dibenarkan. Di luaran sana, mungkin banyak pelaku yang menggunakan alasan tidak puas dengan pasangan, pasangan tidak mengerti dia, dan lain sebagainya yang pusat utamanya adalah pasangannya, dan maka dari itu selingkuh adalah jalan keluar untuk menyelesaikan masalah.
Namun, satu yang mereka lupa, selingkuh bukan jalan pintas menyelesaikan masalah, namun justru akan membuat masalah makin melebar dan membesar.
Ada banyak alasan orang berselingkuh, Yang pertama dan paling sering kita dengar adalah pasangan yang tidak bisa memahaminya. Alasan klasik dan mengambang yang membuat siapa saja yang mendengarnya akan bertanya balik, bagian mana yang tidak dimengerti? Kalau tidak dimengerti, kenapa tidak dikomunikasikan? ya, tipe pasangan seperti ini biasanya mereka takut dan tidak nyaman dengan komunikasi dua arah yang terbuka, mereka akan selalu menghindar untuk diajak bicara dua mata dan bicara sebagai orang dewasa karena mereka sebenarnya tidak sanggup berhadapan dengan dirinya sendiri.
Kedua, alasan klasik lainnya adalah bosan dengan pasangan yang sekarang. Ya, Anda tidak salah baca. Ada tipe orang yang memang mudah bosan dan menjadikan alasan itu sebagai pembenaran atas perilakunya, meskipun kita tahu hanya orang yang kekanak-kanakan saja yang akan menjadikan kata bosan sebagai alasan, karena menjalin hubungan berarti menjaga komitmen dengan penuh kesadaran, bukan sesuai mood-nya saja.
Ketiga adalah mental dan karakter. Tidak ada alasan khusus kenapa orang berselingkuh kalau itu menyangkut mental dan karakter, karena pada dasarnya orang yang berselingkuh adalah orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri, yang selalu melarikan diri dari dirinya sendiri, dan pola perilaku ini cenderung akan berulang meskipun berganti pasangan bila orang tersebut tidak menyadari dan memahami dirinya sendiri.
Bagi pasangan yang diselingkuhi, hal ini akan menjadi mimpi buruk sekaligus memberikan luka batin dan trauma yang luar biasa. Cara dia melihat pasangannya akan berubah, ibarat gelas pecah, maka hatinya tidak akan lagi sama sampai kapan pun. Bayang-bayang pasangannya yang berselingkuh akan menghantuinya sepanjang waktu, yang akan menyebabkan munculnya gangguan kecemasan dan gangguan psikologis lainnya.
Kepercayaan (trust) sudah dipastikan akan hilang, meskipun pasangan yang berselingkuh sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi, namun rasa khawatir akan terulang lagi akan selalu ada, di sinilah beban dan tekanan batin pasangan yang menjadi korban selingkuh dimulai.
Memutuskan untuk bertahan atau melepaskan, keduanya mempunya pro dan cons masing - masing. Bila memilih bertahan, entah demi anak bila sudah menikah atau demi menjaga nama baik keluarga di lingkungan sosial, tentu citra hubungan atau keluarga akan terlihat baik di masyarakat, namun harga yang harus dibayar adalah tekanan mental, kecemasan, dan bahkan bisa menjangkau psikosomatis yang berujung pada penyakit. Bila memilih melepaskan, tentu ini juga tidak bisa dibilang mudah. Kita tetap akan merasakan masa-masa berduka (grief) untuk waktu yang tidak sebentar. Hati kita akan tetap hancur. Nama baik dan citra kita mungkin tidak akan sama lagi. Namun, menjauh dari orang yang berkhianat akan memberi ruang dan waktu bagi batin kita untuk menyembuhkan diri.
Satu hal yang sangat penting dan perlu digarisbawahi bagi korban perselingkuhan adalah bagaimana bisa kembali utuh dan sembuh dari peristiwa itu, bukan malah membuat kita makin jauh terpuruk dan menghancurkan diri kita sendiri. Setiap orang mungkin punya cara yang berbeda dalam menyikapi perselingkuhan, namun yang pasti, pasangan yang menjadi korban berhak untuk membangun hidupnya kembali dan hidup dengan utuh dan tenang bersama dirinya sendiri.



