SeCrP7dtUL2aVHC9BPTmzy7YOro5ys5FuFCiiVVo

Saat Terjadi Konflik dengan Pasangan, Harus Bagaimana ?



Ilustrasi by Freepik

Dalam menjalani hubungan dnegan orang terkasih tentu tidak selamanya berjalan mulus, terkadang ada saja kerikil – kerikil kecil yang membuat ketegangan di antara kedua belah pihak, baik bagi yang masih berpacaran apalagi yang sudah menikah, tentu berbeda level konflik nya. Bila ada pepatah yang mengataka
  bahwa cinta itu harus dipupuk dan dirawat, ternyata itu memang bukan omong kosong belaka, mungkin bila kita ingat saat awal – awal menjalin hubungan ataupun dalam pernikahan, semua terasa sangat indah dan sempurna, seolah – olah kita berdua bersama pasangan adalah satu hati dalam dua raga, semua terasa mudah dan sejalan, impian – impian dan tujuan terasa nyata di depan mata, namun seiring berjalan nya waktu ternyata itu semua bisa saja pudar loh bila kita tidak menyadarinya, waktu memang penguji hubungan yang sebenarnya ya.

Dalam sebuah penelitian tentang cinta romantis dikatakan bahwa cinta yang menggebu – gebu (sexual attraction) dan ketertarikan secara fisik antara pria dan wanita hanya bertahan selama hitungan bulan saja, selanjutnya bukan lagi sexual attraction yang mengambil peran, melainkan kualitas persahabatan diantara kedua pasangan. Memang betul ya kalau diingat – ingat, awal – awal menikah atau berpacaran dulu rasanya seperti jatuh cinta terus setiap hari, namun lama – lama rasa itu juga akan berubah dan kita menjadi lebih rasional dalam menjalin hubungan, kita mulai melihat hak dan kewajiban dalam suatu hubungan, bahkan kita mulai menuntut dan berharap kepada pasangan kita dengan tujuan agar hubungan kita tetap harmonis dan tidak menjadi toxic relationship.

Konflik dalam hubungan itu wajar

Tidak ada hubungan percintaan yang tidak ada konflik di dalam nya karena menyatukan dua manusia dengan jenis dan kepribadian yang berbeda itu tidak pernah mudah. Kita seringkali bias saat bertemu dengan seseorang dan setelah beberapa waktu menjalin hubungan lantas menganggap he or she’s the one karena kita “merasa” banyak kesamaan, padahal kenyataan nya tidak pernah ada seseorang pun yang sama persis di dunia ini, maka dari itulah saat melewati periode waktu tertentu dalam menjalin hubungan atau dalam pernikahan maka konflik – konflik kecil akan mulai bermunculan, tidak lain tidak bukan ya karena perbedaan – perbedaan diantara kedua pasangan yang mejadi penyulut nya.

Menerima konflik dengan lapang dada

Lantas apa yang harus dilakukan saat kita memasuki periode muncul nya konflik saat berpasangan ? salah satunya yang bisa kita lakukan adalah menerima bahwa it’s oke bila terjadi konflik, itu menandakan bahwa hubungan kita nyata, bahwa kita tidak hidup dalam angan – angan seperti cerita - cerita di flm romantis. Sepandai – pandai nya kita menjaga agar konflik tidak pecah maka suatu saat pasti akan pecah juga, tinggal bagaimana cara kita handling konflik tersebut dengan pasangan. Dengan menerima bahwa kita sedang berkonflik maka akan mendorong kita untuk berpikir ulang tentang apa yang sebenarnya terjadi, membuat kita harus dan mau tidak mau untuk merenung dan berpikir serta mencari jalan keluar terhadap konflik yang sedang dihadapi. Bukankah manusia terkadang memang harus dipaksa belajar dan bertumbuh dari sebuah masalah  ?

Menyelesaikan konflik secara elegan

Saat konflik sudah tidak bisa dihindari dan boom pecah saat itu juga, pasti emosi kita akan bercampur aduk antara marah, menyesal, bingung, dan berbagai macam emosi yang sayangnya bersifat negatif yang menyelimuti kita. Saat terjadi konflik pastikan kita mengambil alih kesadaran diri kita sendiri dan berusaha membuat emosi kita tenang dengan cara memberi jarak kepada pasangan untuk melakukan introspeksi. Mengambil jarak dan berpikir sejenak ini akan membuat diri kita lebih kondusif dalam menetralisir emosi – emosi negatif pasca konflik. Dalam hal ini kedewasaan dan kemampuan menerima bahwa kita juga tidak seratus persen benar juga diperlukan karena biasanya saat emosi masing – masing pasangan akan bersikukuh bahwa mereka berdua sama – sama di posisi yang benar, yang mana ego sangat berperan di sini. Dalam cinta yang dewasa, kita akan belajar bahwasanya kita juga tidak selamanya benar meskipun kita terlihat benar atau pada kenyataan nya memang kita benar, dengan menyadari dan mengakui bahwa ada peran andil kita juga dalam terjadinya konflik, sehingga akan membuat kita dan pasangan sama – sama legowo dalam mengakui kesalahan, perkara siapa yang minta maaf duluan nantinya menjadi bukan masalah lagi karena sebenarnya yang kita perjuangkan di sini adalah masa depan jangka panjang hubungan kita dengan pasangan, bukan mencari penghakiman dan pembenaran siapa yang salah dan siapa yang menjadi korban selama batasan konflik nya bukan berada di ranah – ranah prinsipil atau yang menyalahi aturan yang sudah disepakati di awal tentunya.

 

 

Related Posts
Umi Fitria Prihantini
Seorang Ibu, wanita, teman dan partner yang selalu ingin membuka hati dan pikiran untuk belajar tentang hidup. Email : simpelmommy@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar

Popular