SeCrP7dtUL2aVHC9BPTmzy7YOro5ys5FuFCiiVVo

Belajar dari Idiom Stealth Wealth, Bedanya Rich dan Wealth



Ilustrasi by Freepik

Belajar tentang ilmu persona finance dewasa ini snagat dimudahkan dengan adanya fasilitas seperti sosial media, bagaimana tidak, semenjak pandemi dua tahun silam kita benar – benar sangat disadarkan bahwa nengatur dan mengelola keuangan pribadi maupun keluarga ternyata sangat penting, tidak hanya untuk bisa survive hidup hari demi hari namun juga untuk tujuan – tujuan  masa depan pribadi dan keluarga kita.

Dengan semakin terbukanya informasi dan semakin banyaknya konten dan influencer yang mengangkat tema finance ini tentu sangatlah rugi bila kita tidak bisa mengambil semua manfaat nya, namun jangan salah, di antara semua konten – konten itu, tidak semuanya juga harus kita telan mentah – mentah ya, semua harus diukur sesuai kondisi dan kemampuan finansial kita masing – masing.

Salah satu yang paling menggelitik adalah mulai menjamur nya konten – konten finansial yang menunjukkan secara personal bagaimana cara mengatur uang lengkap dengan informasi pendapatan maupun detail cara mengatur nya, bahkan para influencer ini juga tidak sungkan menyebut angka secara blak – blak an di depan kamera. Di sisi lain kita merasa sangat terbantu sekali dengan konten yang disajikan karena benar – benar real dan angka nya nyata, namu pernahkah kita sedikit mengkritisi apakah benar – benar real seperti itu praktek nya di lapangan  ataukah hanya sekedar “konten” belaka yang membuat seolah – olah sangat aplicable dan bisa ditiru oleh semua orang. Sayang nya mungkin cara seperti ini berhasil di awal namun tetap kita akan kembali kepada pola – pola dan cara – cara lama kita karena yang sebenarnya sedang kita tiru adalah cara praktis atau lebih keren nya disebut lifehack, bukan menyelami inti masalah keuangan pribadi kita masing – masing.

Personal finance, namanya juga personal, ya sudah pasti sifatnya sangat pribadi dan berbeda satu orang dengan orang yang lain. Meskipun kita sama – sama mempunyai pendapatan bulanan dengan nominal yang sama, bukan berarti cara mengelola dan mengaturnya juga bisa disamaratakan karena kebutuhan dan keinginan serta background dan kondisi hidup setiap orang berbeda – beda, itulah mengapa kita tidak perlu terlalu strict dan taat garis keras mengikuti saran – saran dan cara – cara dari influencer finansial karena kondisi kita berbeda dengan mereka, yang patut kita jadikan pedoman dan aplikasikan sebenarnya bukan cara – cara praktis nya dan berapa persen atau nominal pembagian angka nya, melainkan prinsip dasar dari ilmu personal finance itu sendiri, ruh dari ilmu nya itu sehingga penerapan nya bisa kita sesuaikan dan adjust sesuai dengan kondisi kita saat ini. Tidak ada yang namanya salah benar dalam hal ini, yang salah adalah saat kita tidak mau belajar dan menerapkan ilmu finansial itu untuk hidup yang lebih baik.

Beberapa fenomena yang terjadi di dunia sosial media juga membuat kita berpikir, dengan mereka menyebutkan jumlah pendapatan dan juga cara mereka mengatur dengan detail seperti itu apakah mereka tidak merasa privasi nya terusik  ya, namun ya kembali lagi kita tidak benar – benar tahu apakah itu memang real ataukah hanya sekedar contoh studi kasus untuk memudahkan proses transfer ilmu, tidak ada yang tahu. Namun, kita boleh berbaik sangka bahwa itu semua dilakukan untuk tujuan mengedukasi, yang paling penting sebenarnya bukan influencer nya dan apa yang mereka sampaikan, tapi kita nya sebagai penonton dan konsumen konten yang harus pintar – pintar menelaah semua informasi yang tersedia di internet yang rasa – rasanya sudah tidak bisa terkendali lagi banyak dan ragam nya.

Kembali ke persoalan personal finance, setelah kita disuguhi dengan beraneka ragam fenomena flexing, baik yang frontal maupun flexing yang berkedok memotivasi, dari sini kita menjadi semakin jeli dan bisa memilah – milah mana yang memang kredibel dan mana yang tidak. Fenomena flexing mungkin akan terus ada sampai kapan pun hanya saja cara atau metode nya saja yang berbeda – beda. Lalu, apa sih sebenarnya yang mau dicapai dengan memertontonkan pencapaian goal personal finance kita, apakah benar untuk memberikan motivasi kepada orang lain, hmm tapi sepertinya terlalu naïf juga kalau dipikir – pikir. Personal finance itu kan sifatnya personal, bila kita amati lebih lanjut lagi, yang berkoar – koar dan heboh di sosial media biasanya bukan yang sudah berada di level wealth, karena orang – orang yang wealth mereka akan diam saja, tidak banyak basa – basi dan heboh seperti yang sedang ramai sekarang. Orang yang sudah berada di level wealth sudah tidak membutuhkan apresiasi dan pengakuan orang lain atas pencapaian dan apa yang sudah mereka lakukan karena mereka melakukan semuanya untuk tujuan hidupnya sendiri bukan untuk meng impress orang lain. Sedangkan orang yang masih berada di kategori rich, biasanya akan cenderung suka mempertontonkan pencapaian nya dalam segi finansial sehingga akan terkesan bahwa dia adalah role model yang patut dicontoh dan memang golongan ini akan lebih berapi – api dan heboh bila membahas masalah yang berkaitan dengan cuan cuan dan cuan. Wealth dan rich keduanya sama – sama mempunyai uang dan kekayaan namun mereka jauh berbeda dalam memahami makna uang dan kekayaan itu sendiri. Orang yang wealth, mereka tahu saat nya untuk berkata cukup, terlepas dari berapapun nominal kekayaan nya, sedangkan orang yang rich mereka akan terus mengejar apapun selama bisa menghasilkan cuan. Orang yang berada di level wealth mereka tidak berarti menganggap uang tidak penting, mereka sangat menganggap uang penting dan menghargai uang maupun kekayaan namun mereka tetap tenang dan biasa saja sama seperti orang pada umumnya , intinya mereka tahu apa yang mereka mau, mereka tahu tujuan finansial mereka apa, dan saat sedang berproses ataupun sudah tercapai semua tujuan nya mereka tidak akan merubah gaya hidup dan menjalani hidup seperti orang kebanyakan. Itulah mengapa banyak kita jumpai orang yang super kaya justru mereka tersembuti, hidup sederhana dan biasa saja sedangkan orang yang rich akan senang untuk tampil wah dan mendaptkan pujian serta penghargaan atas apa yang dia miliki. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang wealth ya dengan berapapun kekayaan kita.

Related Posts
Umi Fitria Prihantini
Seorang Ibu, wanita, teman dan partner yang selalu ingin membuka hati dan pikiran untuk belajar tentang hidup. Email : simpelmommy@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar

Popular