SeCrP7dtUL2aVHC9BPTmzy7YOro5ys5FuFCiiVVo

Social media detox untuk menjaga kewarasan



Pernah tidak kita mengalami situasi seperti gambar di atas ? saat berkumpul dengan sahabat, keluarga bahkan pasangan secara tidak sadar kita lebih banyak menghabiskan waktu pada gadget kita, entah hanya sekedar mengecek notifikasi WA, scrolling feed IG, update status Facebook mungkin atau hanya sekedar bmembaca komen - komen netizen pada topik yang sedang trending. 

Yup, saya yakin semua yang membaca tulisan ini dan saya sendiri juga pernah melakukan hal tersebut di atas, kalau dahulu ada jargon mendekatkan yang jauh,sekarang sepertinya kondisi terbalik, yang ada malah menjauhkan yang dekat.

Tidak hanya terbatas kalangan millenials saja, social media addict ini juga menjalar ke generasi - generasi di atas millenial juga, bagaimana tidak, efek bahagia saat komen kita dibalas, feed kita banyak mendapat likes ataupun status kita banyak mendapat views memang seperti another step of happiness nowaday, jadi tidak heran banyak orang yang mencari jenis kebahagiaan ini lewat social media.

Tanpa kita sadari, kita mengabaikan orang - orang yang ada di dekat kita dan momen - momen yang mungkin tidak akan terulang lagi.

Bukan berari menggunakan media sosial itu dilarang dan jelek dari berbagai aspek, tidak juga, heran nya sekarang ini banyak orang menyalahkan sepihak media sosial sebagai destroyer, padahal kita tidak benar - benar tahu juga alasan dibuatnya social media, walau beredar banyak berita , teori - teori konspirasi tentang sosial media atau apapun itu, tetap, dalam community, selalu ada hubungan dua arah antara subyek dan obyek, dimana subyek nya adalah kita, manusia dan obyek nya adalah gadget.

Kita banyak mendnegar berita  semakin amraknya kampanye mental health issue karena dampak buruk kurang bijaksana nya menggunakan social media, namun bukan berarti kita tidak bisa menemukan titik tengah, salah satu nya adalah social media detox.

social media detox bukan berarti tidak boleh 100% menggunakan social media, hanya saja kita sebagai subyek harus bisa membuat batasan dalam ber social media, mengetahui kapan harus berhenti dan kembali ke kehidupan nyata akan membantu menjaga kewarasan kita dan melepaskan diri kita dari segala doktrin - doktrin, jugdgmental dan pengaruh - pengaruh lain yang membuat kita merasa insecure, merasa tidak cukup baik dalam hal tertentu, perfeksionis dan ambisi yang tidak terukur.

Social media detox bisa kita lakukan dengan cara nengurangi waktu menggunakan gadget, menerapkan scheduling untuk mengecek sosmed kita, sehingag tidak setiap saat kita disibukkan mengecek notifikasi dan yang terjadi justru kita yang dikendalikan sosmed, big no no. selanjutnya bisa kita naikkan sedikit level nya dengan mengurangi frekuensi pengecekan nya sehingga benar - benar punya kendali penuh dengan gadget kita.

memberi jarak dengan dunia maya, dan tetap menyadari bahwa kita hidup di dunia nyata akan membuat tingkat kewarasan kita tetap terjaga, karena lucu nya kadnag kita tidak menyadrai apa yang kita lihat di social media belum tentu yang sebenarnya terjadi di dunia nyata, lain kali kita bahas ya tentang topik ini.


Related Posts
Umi Fitria Prihantini
Seorang Ibu, wanita, teman dan partner yang selalu ingin membuka hati dan pikiran untuk belajar tentang hidup. Email : simpelmommy@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar

Popular