SeCrP7dtUL2aVHC9BPTmzy7YOro5ys5FuFCiiVVo

Godaan Ibu Rumah Tangga adalah kembali berkarir


Photo by Jep Gambardella from Pexels

Entah kenapa akhir – akhir ini kepikiran terus untuk kembali berkarir, bukan karena tidak bersyukur dengan gaji pak suami, saya sangat bersyukur karena itu adalah bentuk tanggung jawab kepada keluarga, diluar bahasan nominal ya J, hehe.
Kehidupan berubah total sejak saat itu, saya sudah tidak mendapat gaji bulanan lagi sehingga supply ke orang tua juga harus berhenti, sedih sekali rasanya, yang biasanya bisa memberi ke orang tua sekarang tidak bisa lagi. Niat hati setelah lahiran dan ASI ekslusif 6 bulan saya ingin kembali bekerja, namun pandemi menghantam sehingga sangat sulit untuk mencari lowongan pekerjaan, bahkan relasi – relasi juga banyak yang dirumahkan, kondisi ini semakin berangsur – angsur hingga anak saya berusia 2 tahun di tahun ini, sehingga kesibukan saya sebagai IRT ya menurus urusan domestik dan mengasuh anak. Di sela – sela kesibukan saya, saya menyempatkan untuk selalu upgrade skill, wawasan, belajar banyak hal dan juga kembali memuat blog dan menulis agar saya masih mempunyai ruang untuk aktuaktualisasi diri. Namun, yang sampai sekarang menjadi ganjalan adalah saya belum bisa lagi melakoni peran saya seperti dulu saat bekerja, memberi kepada orang tua dan membantu pembiayaan adik saya. Lagi – lagi, sebenarnya orang tua saya tidak mempermasalahkan hal itu, karena mereka ingin saya fokus dengan hidup pribadi dan keluarga saya sendiri, namun cinta saya dengan kedua orang tua dan adik – adik saya terlalu besar untuk begitu saja saya berlepas tangan.  Namun, belum banyak yang bisa saya lakukan hari ini karena keluarga kami juga baru pindah ke luar pulau, mengikuti suami yang bekerja dan melanjutkan studi nya di sini. Mau bekerja lagi namun kami tidak punya relasi atau orang yang dipercaya untuk menjaga anak kami,karena untuk urusan anak kami agak sensitive dan picky untuk urusan titip menitip, akhirnya untuk saat ini saya jaga kandang di urusan domestik sebagai IRT dan suami yang keluar bekerja.

Sebagai wanita yang berawal dari masa kecil penuh kerja keras mulai dari bangku sekolah, kuliah hingga langsung bekerja selepas lulus kuliah, dengan rentang waktu bekerja di satu perusahaan multinasional yang lumayan lama, hampir 8 tahun, semua berubah total saat saya menikah. Keputusan menikah bagi siapapun memang bukan keputusan mudah, karena akan ada banyak konsekuensi yang mengikuti setelah nya. Dahulu, saat saya masih bekerja, saya berprinsip bahwa saya akan menikah setelah saya selesai memperbaiki taraf hidup keluarga saya, saya memang termasuk generasi sandwich, tapi bukan karena paksaan orang tua, namun saya sendiri yang mempunyai kesadaran untuk membantu kehidupan keluarga kami. Setelah bekeja, saya mengambil alih pembiayaan pendidikan ketiga adik saya, hingga yang pertama lulus kuliah, yang kedua lulus SMK dan langsung bekerja karena tidak mau melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, dan yang terakhir sampai lulus SMP, karena saya akhirnya menikah saat adik saya yang terakir masuk SMA.

Setelah 20 tahun lebih keluarga kami mengontrak rumah, akhirnya dari hasil kerja, saya bisa membantu mewujudkan impian untuk mempunyai rumah sendiri, hingga saya masih bekerja, akhirnya rumah kami bisa lunas dipercepat, dan dari bonus - bonus projek tahunan, kami bisa membeli mobil untuk bepergian keluarga. Puji syukur saya panjatkan akhirnya perlahan – lahan keluarga kami mempunyai rumah dan mobll sendiri dan kehidupan berjalan lebih baik.

Setelah menikah, saya masih bekerja, karena memang saya ingin terus berkarir untuk membantu kelaurga besar (karena adik masih SMA), dan juga membantu keluarga kecil saya sendiri. Walaupun dari sisi orang tua ayah saya masih bekerja dan masih sanggup membiayai adik terakhir saya untuk sekolah, namun saya kasihan karena sebentar lagi ayah akan pensiun, jadi lagi – lagi saya bertekad harus mengambil alih urusan adik bungsu saya.

Namun, kejadian tak terduga datang, perusahan tempat saya bekerja memberlakukan efisiensi SDM, dan kebanyakan yang kena dampak adalah pegawai yang sudah lumayan lama , termasuk saya yang hampir 8 tahun bekerja di sana. Yap, hari itu pun datang juga, status saya sebagai pegawai teatp tidak luput juga dari sasaran, saya di released dengan alas an efisiensi, dalam kondisi hamil 7 bulan L

Saya berharap semoga ke depan ada jalan keluar yang win – win, dan harapan – harapan saya bisa terwujud, yakni kembali bisa membantu orang tua tanpa mengesampingkan keluarga kecil saya sendiri.

Related Posts
Umi Fitria Prihantini
Seorang Ibu, wanita, teman dan partner yang selalu ingin membuka hati dan pikiran untuk belajar tentang hidup. Email : simpelmommy@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar

Popular