SeCrP7dtUL2aVHC9BPTmzy7YOro5ys5FuFCiiVVo

Menyapih Anak dengan Minim Drama



Semua mommy pasti setuju kalau ASI adalah sumber makanan terbaik bagi bayi dan pemberian ASI disarankan mulai dari bayi baru lahir hingga usia 2 tahun, wah ternyata proses menyusui itu lama juga ya, namun terkadang karena kita enjoy dan berhasil melalui berbagai dilema dan drama saat masa menyusui, tidak terasa sudah hampir 2 tahun saja berlalu.

Proses menyapih sama dilematis dan drama nya juga loh dengan proses awal menyusui, karena notabene semua fase suatu step dalam perkembangan hidup kita memang tidak selalu mudah ya mommy, begitu pula dengan menyapih. Proses menyapih membutuhkan kerjasama yang baik antara ibu dan anak,  salah satu faktor yang paling dominan di sini adalah psikis keduanya, baik ibu maupun anak, mengapa ? karena kita sebagai ibu terkadang merasa tidak tega atau tidak rela anak berpisah dari kita dalam konteks menyusui, saat proses menyusui kita merasakan kedekatan fisik dan emosional dengan anak dan ini membuat bonding kita dengan anak semakin kuat dan solid, begitu pula dengan anak, proses menyusui memberikan anak rasa aman dan nyaman berada di pelukan ibu,  mereka merasa dilindungi dan dicintai sepenuhnya.

Saat proses  menyapih akan kita lakukan, rasa khawatir tentang bonding ibu dan anak bermunculan, terkadang timbul pertanyaan di kepala kita, apakah anakku akan tetap dekat denganku setelah di sapih ? apakah dia akan merasa diabaikan nanti nya ya ? bagaimana kalau dia tidak lagi membutuhkan aku ? dan banyak ketakutan – ketakutan lainnya.

Nah, agar prses menyapih bisa berjalan lancer, aman dan minim drama, yuk kita intip tips berikut yang juga saya terapkan salam menyapih anak saya tidak lama ini :

Bangun Komunikasi dengan anak

Disadari atau tidak, anak juga punya feeling loh saat dia akan memasuki usia 2 tahun dan akan mulai disapih, jadi jauh – jauh hari kita bisa melakukan komunikasi dengan anak dan menyampaikan bahwa nanti saat sudah 2 tahun asi nya sudah cukup ya dan tidak boleh menyusu lagi, disni kita bisa memilih bahasa atau kalimat yang mudah dimengerti anak agar dia tidak kaget saat hari H penyapihan dimulai. Komunikasi ini bisa kiya laukan terus menerus dan diulang - ualang ya mommy, agar pesan bawah sadar anak kita terbentuk dari sini.

Mulai mengurangi frekuensi menyusui

Beberapa bulan sebelum disapih, kita bisa membangun kebiasaan baru dengan anak yakni mulai mengurangi intensitas menyusui, mungkin bila setiap saat anak ingin menyusu, kita bisa mulai hanya memberikan asi saat hendak tidur siang atau tidur malam saja, di luar jam – jam itu kita bisa menyibukkan anak dengan kegiatan bermain untuk mengalihkan perhatian nya ingin menyusu. alternatif lain kita bisa mulai mengenalkan anak dengan susu pengganti ASI bila mommy menghendaki anak tetap mendapatkan asupan susu setiap hari nya, bisa dnegan susu UHT untuk anak-anak maupun susu formula sesuai usia si kecil.

Memberikan efek jera

Cara ketiga ini mungkin bisa dibilang sebagai validasi bila cara pertama dan kedua belum juga bisa membuat anak berhenti menyusu, dan rata – rata memang sedikit banyak perlu sentuhan efek jera, karena bagaimanapun juga anak kita berada  dalam usia dimana kecerdasan  dan daya tangkap nya berkembang pesat, terkadang mereka membutuhkan bukti dan alasan kuat mengapa mereka dilarang menyusu,  namanya anak kecil, bila kita hanya menjelaskan dengan bahasa verbal saja mereka kurang mendapat poin nya mengapa tidak boleh , mengapa ibu menolak mereka ? apa yang salah dengan mereka ? nah disini kita bisa memberi stimulus pada anak bahwa bukan mereka yang bermasalah, bukan ibu tidak sayang lagi dengan mereka, namun ada kondisi yang tidak memungkinkan mereka untuk menyusu lagi. Biasanya para orang tua dulu mengolesi puting payudara nya dengan ramuan atau jamu, obat dan herbal lain yang terasa pahit, jadi saat anak menyusu mereka  akan mendapatkan pengalaman yang membuat mereka jera untuk tidak menyusu lagi, jadi bukan mereka tidak dibolehkan menyusu atau ibu tidak sayang mereka lagi, tapi karena memang payudara nya terasa pahit.

Ketiga cara di atas mungkin bisa mommy coba terapkan dalam menyapih anak, tapi kembali lagi,metode yang berhasil untuk satu orang bisa jadi berhasil bagi orang lain atau juga tidak, jadi silahkan mommy ber ekpserimen ya kira – kira metode mana yang akan diterapkan, atau mungkin mommy punya jurus ampuh sendiri. Proses menyapih ini juga tidak seratus persen bebas drama, drama – drama seperti anak yang tantrum, menangis, ini adalah hal yang wajar karena anak dalam tanda kutip “dipaksa” menghentikan kebiasaan yang sudah mendarah daging selama 2 tahun .

So, semangat untuk para mommy yang sedang maupun akan menyapih buah hati nya, nikmati saja prosesnya dan tentu saja, sabar adalah kunci utama nya ya.

Related Posts
Umi Fitria Prihantini
Seorang Ibu, wanita, teman dan partner yang selalu ingin membuka hati dan pikiran untuk belajar tentang hidup. Email : simpelmommy@gmail.com

Related Posts

2 komentar

  1. Tapi susah sih kak apa lagi dikampung plus masing bareng sama ortu atau mertua, ada aja keributan hahaha

    BalasHapus
  2. iya juga ya, lebih menantang bila kita tinggal dnengan anggota keluarga yg lain ya, karena saat mau menerapkan cara - caar tertentu eh gak sepaham :)

    BalasHapus

Popular