SeCrP7dtUL2aVHC9BPTmzy7YOro5ys5FuFCiiVVo

It’s Oke Kalau Hidup Masih Belum Ideal


Ilustrasi by Freepik

Berbicara tentang hidup yang ideal, hmmm siapa sih yang tidak menginginkan nya ? semua orang ingin punya rumah, kendaraan, pakaian yang pantas dikenakan, kebutuhan nya terpenuhi dengan baik, bahkan tidak hanya sebatas kebutuhan tapi juga keinginan – keinginan nya, wahh makin pengen saja ya. Adalah hal yang lumrah sebagai manusia untuk selalu menginginkan kehidupan yang lebih baik dari hari ke hari, tentunya kita juga tidak mau seumur hidup begini – begini saja kan ?

Peran sosial media dan semenjak pandemi belakangan ini memaksa orang untk stay at home dan semua aktifitas dilakukan dari rumah. Hal ini membuat kita semakin sibuk di urusan domestik atau bahkan beberapa justru banyak mempunyai waktu luang di rumah. Banyaknya waktu luang di rumah ini bila tidak digunakan untuk hal – hal yang produktif akan membuat kita terlena dengan kenyamanan, apalagi kalau setiap hari kerja nya scroll –scroll sosial media terus.

Tren sosial media di tahun – tahun semenjak pandemi ini juga semakin memprihatinkan, di dominasi semakin banyak nya konten – konten pamer kesuksesan dan kekayaan  yang dampaknya justru lebih banyak membawa kita lebih inscure daripada termotivasi. Mungkin dari beberapa konten tersebut memang berhasil membuats sebagian kita menajdi termotivasi, namun di sisi lain juga sama membuat stres nya karena kita merasa kok belum seperti  dia. Inilah yang menyebabkan angka depresi dan banyak anak muda yang self proclaim sedang mengalami mental health, karena society pressure yang banyak terjadi di sosial media.

Sekarang kembali ke pertanyaan,apakah salah dan langsung di cap gagal bila kita belum mencapai stage atau level seperti hidup para konten – konten kreator di sosial media ? hmm, tidak juga, karena yang perlu diingat hidup itu bukan kompetisi sukses –susksesan, banyak – banyakan subscribers  atau banyak – banyakan uang dengan orang lain, karena setiap orang hidup dalam koordinatnya sendiri yang sifatnya unik dan tidak mungkin sama dengan orang lain. Jadi, kita tidak bisa menyamaratakan cara – cara tertentu kepada semua orang.

Kita tidak pernah meminta dilahirkan dalam situasi keluarga seperti apa, tipe orang tua yang seperti apa dan lingkungan yang seperti apa, beberapa orang memang beruntung lahir di tempat dan dikelilingi orang – orang yang supportif sehingga membuat perkembangan dirinya  melesat , namun sebagian yang lain justru mengalami hal yang sebaliknya sehingga mustahil dengan prorotype yang berbeda diberlakukan judgment standar – standar yang sama.

Setiap orang unik dengan perjalanan hidup, ujian dan lika – liku hidupnya sendiri, apa yang berhasil bagi sebagian orang belum tentu berhasil bagi yang lain, maka sangat miris saat orang – orang mulai menilai dan membandingkan satu orang dengan yang lain, karena sebenarnya kita tidak pernah tahu perjalanan hidup orang itu sendiri seperti apa.

Saat variabel dari luar diri kita begitu besar nya mempengaruhi, salah satu yang bsia kita andalkan hanyalah percaya pada kemampuan diri kita sendiri tanpa perlu melirik dan stres dengan pencapaian orang lain, mungkin hal ini terdengar simple dan mudah dilakukan namun dalam kenyataan nya kita akan dituntut sangat struggling dalam mengelola mental dan emosi kita supaya tidak terpancing. Kita juga harus bisa mengendalikan budaya ikut- ikutan yang sekiranya kurang pas dengan diri kita karena yang tahu kebutuhan dan apa yang kita inginkan ya diri kita sendiri. Sah –sah saja menganggap keusksesan orang lain sebagai cambuk, namun ironisnya bukan semangat atau ide cemerlang yang biasanya muncul lebih dulu namun rasa insecure dan terburu – buru ingin seperti mereka yang biasanya hadir sehingga membuat kita menabrak sana sini dalam mengambil keputusan dan bersikap dengan tujuan supaya bisa cepat mengejar ketertinggalan dengan para figure – figure yang kita lihat pencapaian nya.

Efek beruntun dari buru – buru itu tadi yang akhirnya membuat kita menajdi buta dengan mana yang benar dan salah, semua diterabas dan kita menjadi sangat ignorance. Tidak henti – henti nya para orang – orang sukses memberikan wejangan terutama kepada kaum muda bahwa untuk mencapai titik sukses diperlukan perjuangan, keringat dan juga waktu, tiga hal ini yang sepertinya sangat langka sekarang ini, karena semua orang maunya cepat dan ditambah bayang – bayang masa depan yang tak menentu yang menambah parah paranoid kita.

So, its okay bila sekarang ini hidup kita belum bisa dikatakan ideal karena kita masih memulai, masih berjuang, masih berpeluh – peluh untuk meraih apa yang kita sebut dengan standar sukses kita, bukan standar sukses orang lain. Memang sulit untuk mempertahankan keteguhan hati dan kepercayaan terhadap diri sendiri akan langkah yang sekarang kita jalani, tapi sekali lagi kita ini unik dan kita punya jalan cerita hidup dan juga jalan cerita sukses yang berbeda – beda nantinya.

Related Posts
Umi Fitria Prihantini
Seorang Ibu, wanita, teman dan partner yang selalu ingin membuka hati dan pikiran untuk belajar tentang hidup. Email : simpelmommy@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar

Popular